Selasa, 29 Maret 2011

cerpen semalam suntuk

Aku Coba Mengingat- Mu


            Seorang anak remaja bernama Blanko. Umurnya masih 14 tahun. Di kesehariannya, dia memiliki tekanan yan begitu besar. Tekanan ini datang dari kedua orantuanya. Ayah dan ibunya sering bertengkar hebat akhir- akhir ini, pada setiap malamnya. Akhirnya pada suatu malam, dia memutuskan untuk pergi dari rumah secara diam- diam. Keputusan dia ini sudah dipikirkannya dengan matang. Walau dia sudah berusaha mendamaikan, tetapi tetap saja dia harus memilih keputusan nekat ini. Baginya, dia bukanlah lagi sebagai anak di dalam keluarga tersebut. Tetapi menurutnya dia hanyalah sebagai beban di keluarga.
            Tanpa sepeser uang dan perbekalan, Blanko pergi meninggalkan rumahnya. Hanya bermodalkan pakaian yang dipakainya dan tekat yang dimiliki, dia berjalan menurut arah kakinya melangkah. Siang dan malam berlalu. Dia beruntung karena dia sering mendapat nasib baik. Orang- orang yang melihatnya, kerap kali merasa iba. Karena rasa iba itu, maka Blanko mendapat uang. Dari uang itu, dia bisa membeli makan dan minum untuk hidupnya. Namun karena dia terus berpindah- pindah, dia sekarang berada di sebuah pelabuhan. Dengan sembunyi- sembunyi, dia berhasil masuk sebuah kapal di sana.
            Sampailah Blanko pada sebuah pulau yang sesungguhnya Blanko sendiri tidak tahu pulau apa itu. Pulau ini berpenduduk ramai. Tetapi penduduk di tempat ini berbeda dengan penduduk yang ada di pulaunya. Keramaian ini disertai dengan kesombongan. Jarang sekali dari antara penduduk di sini yang peduli dengan gembel seperti Blanko. Hingga pada suatu hari, Blanko tidak mendapatkan apapun. Blanko harus tidur dalam kondisi kelaparan hebat. Tetapi tidur itu akhirnya dibangunkan oleh air hujan yang turun membasahinya. Blanko pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kemudian dia mencoba mengingat- ingat bagaiman cara berdoa. Dahulu orangtuanya pernah mengajarkan kepadanya cara berdoa menurut ajaran Katolik. Lalu Blanko membuat tanda salib, dan berdoa. Doa yang diucapkannya berisi kurang lebih memohon kepada Tuhan Yesus agar penduduk pada pulau itu mendapat kebahagiaan yang jauh lebih baik dari pada yang dia rasakan.
            Dalam keadaan basah sekujur tubuhnya karena hujan, Blanko duduk di tepi jalan yang sepi. Jalan sepi sesekali dilalui oleh mobil ataupun motor. Ada satu dari antara sekian mobil yang lewat, berhenti di depan pandangan Blanko. Blanko merasa keheranan bercampur takut. Ternyata kaca pintu blakang mobil sedan mewah itu terbuka. Terlihat seorang yang tampan menyuruh Blanko untuk masuk ke dalam mobil. Perasaan takut itu semakin manjadi. Tetapi Blanko tetap menuruti. Sesaat ketika memasuki mobil itu, perasaan takut Blanko mulai bercampur lagi dengan perasaan bangga. Karena ini merupakan kali pertama baginya untuk naik mobil semewah itu. Dia hanya bisa diam saja. Perasaan bingungnya mulai datang kembali. Akan dibawa kemana dirinya? Akan dijadikan apa dia nanti? Sesampainya di sebuah rumah yang besar dan juga mewah, Blanko di persilahkan untuk membersihkan diri. Sementara Blanko mandi, pria yan tadi di dalam mobil, sudah menunggunya di sebuah ruangan –seperti ruang rapat  dan akan berbincang dengan Blanko. Dengan mengenakan baju baru yang diberikan oleh seorang pelayan, dia masuk ruangan tersebut.
            Dalam perbincangan mereka, pria itu memperkenalkan dirinya bernama Jonathan Prongsquid. Lalu Blanko menyimpulkan bahwa pria ini baik orangnya. Berpenampilan rapih, dan sopan berbicara. Padahal umur Jonathan adalah 18 tahun. Umur yang masih terbilang muda untuk seoran pengusaha sukses. Diketahui ternyata Jonathan mewarisi perusahaan ayahnya. Lalu atas dasar apa pria ini memanggil Blanko di jalan tadi? Ternyata Jonathan membutuhkan seorang teman. Di sisi lain, Jonathan melihat Blanko seperti adiknya sendiri yang sudah meninggal karena kecelakaan. Jonathan bermaksud untuk mengadopsi Blanko dan menjadikannya sebagai keluarga. Blanko juga tidak berkeberatan untuk diadopsi dan tidak memiliki maksud jahat sedikitpun kepada seorang yang kaya raya seperti Jonathan. Justru Blanko juga sudah lama menginginkan seorang kakak yang bijaksana.
            Setelah kebersamaan mereka berlangsung kurang lebih 15 tahun, Blanko pun sudah semakin dewasa. Blanko diberi kepercayaan untuk memegang kendali satu perusahaan milik Jonathan. Tidak pernah lupa bagi Blanko yang sudah menganggap Tuhan yang turut campur tangan dalam hidupnya. Blanko terus berterimakasih kepada Yesus karena hidupnya yang kini sudah berubah. Blanko juga sering mengajak Jonathan untuk ke gereja. Pernah juga Blanko ingin untuk bersama- sama dengan orangtuanya. Tetapi Blanko tidak berani mengakuinya kepada Jonathan. Blanko sudah merasakan trauma. Sudah cukuplah dia merasakan tekanan lagi dari orangtuanya. Blanko hanya bisa berdoa agar orangtuanya dilindungi oleh Tuhan dan selalu dijauhkan dari marabahaya. Dan semenjak itu, Blanko tidak pernah bertemu orangtuanya dan tidak tahu keberadaan serta kabar orangtuanya.

2 komentar: